Selasa, 01 Juli 2008

The unknown girl (bag. 3)

Setelah mengetahui wajah dan kelas M. Sekarang masalahnya bagaimana caranya supaya aku bisa melihatnya secara langsung, tanpa terlihat olehnya. Aku ingin memastikan terlebih dahulu yang mana orangnya. Aku tak akan datang sendiri ke kelasnya dan melihatnya langsung. Itu terlalu beresiko.

Meskipun aku sudah melihat wajahnya di FS-nya, tapi sulit untuk mengenalinya secara langsung. Pertama, foto-fotonya yang ia upload di FS rata-rata hanyalah foto close up dari pundak ke atas, aku menjadi tidak tahu berapa ukuran tinggi badannya. Kedua, ekspresi wajahnya saat di foto dan dalam kehidupan sehari-hari akan berbeda. Aku pernah dengar, katanya kebanyakan perempuan akan memperlihatkan sisi atau ekspresi wajahnya yang menurutnya lebih bagus saat akan di foto. Contoh, seorang perempuan saat akan di foto ia sedikit menolehkan wajahnya kekiri. Dengan alasan, katanya wajahnya akan lebih cantik apabila dilihat dari kanan, dan semacamnya. Begitu juga dengan M, ekspresi yang ia perlihatkan di foto tidak lebih dari ekspresi narsis, tidak mungkin ia selalu berekspresi seperti itu setiap hari. Selain itu, aku tidak bisa menghafal secara detail wajahnya yang ada di foto. Jadi meskipun aku berpapasan dengannya, mungkin aku tidak akan menyadari kalau itu M.Karena itu, aku bermaksud mengatakan padanya kalau aku sudah melihat dirinya dengan jelas. Mungkin dengan begitu dia akan merasa bahwa tidak perlu lagi bersembunyi dariku karena sudah ketahuan. Aku sudah memikirkan suatu rencana untuk itu.Suatu saat kami sms-an disaat jam pelajaran sekolah. Aku melakukannya dengan sengaja. Sepulang sekolah, barulah aku menjalani rencanaku. Aku mengirim sms kepadanya begini, “M, aku dah liat kamu loh…”

“masa? Boong kali…”

“bener kok. Kamu kelas XI IPA 1 kan?”

“hah? Kok tau sih? Tau dari mana?”

“ada deh... mau tau aja...”

“tuh kan, pelit banget sih ama M. Mangnya kakak liat M dimana? Pas M lagi ngapain?”

“kelas kamu di depan koperasi kan?”

“iya, mang kenapa?”

“inget ga pas aku kita sms-an tadi siang? Nah, pas waktu itu aku ada di koperasi, lagi pura-pura mau beli buku. Dari situ aku bisa melihat jelas ke dalam kelas kamu. Nah, waktu itu di kelas kamu cuma ada satu cewek yang lagi sms-an. Udah pasti itu kamu yang lagi bales sms aku kan. Hehe…” kataku.

Tentu saja yang ku katakan barusan adalah bohong. Saat itu aku sama sekali tidak berada di koperasi, melainkan duduk manis di kelasku. Itu alasan yang kubuat-buat, karena tidak mungkin aku bilang kalau aku melihatnya di FS-nya.“aaah…! Salah liat kali… coba sebutin ciri-ciri M!” katanya. Setelah itu aku menjelaskan ciri-cirinya berdasarkan yang kulihat di foto FS-nya. Setelah aku menjelaskan ciri-cirinya, aku bertanya, “bener kan ciri-ciri yang aku bilang barusan?”

“iya! Tapi kalo gitu kakak curang dong!”

“eh? Curang kenapa?”

“kakak udah liat M kan. Berarti sekarang gantian M pingin liat kakak. Masa M gak boleh liat kakak sih.”

Mendengar perkataanya itu, aku sempat bingung harus menjawab apa. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. Setelah itu aku menjawab, “ya kamu mesti cari aku sendiri dong, aku aja nyari kamu dengan usaha aku sendiri. Gini aja deh, kalo dalam waktu satu minggu kamu bisa nemuin aku , aku akuin kamu emang pinter. Hehehe... mau gak?” meskipun aku bilang begitu, aku sendiri belum melihat dia secara langsung. Berarti aku harus melihat dia sebelum dia menemukan aku.

“ya udah...!” jawabnya. Semenjak saat itu, ‘kejar-mengejar’ antara aku dan M pun dimulai...

to be continued...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar